RCEP ditandatangani Indonesia, selanjutnya apa?

RCEP ditandatangani Indonesia, selanjutnya apa?
RCEP ditandatangani Indonesia, selanjutnya apa?

Dapatkan promo member baru Pengeluaran SGP 2020 – 2021.

Penulis: Arianto A Patunru, ANU dan Pangsa Aprilianti, Jakarta

Pada 15 November 2020, Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) kesudahannya ditandatangani setelah delapan tahun kesepakatan. Ini adalah salah satu kesepakatan perniagaan terbesar dalam sejarah, mencakup sepertiga dari ekonomi dan populasi global. Dinegosiasikan di antara 16 negara berantakan 10 anggota ASEAN ditambah Australia, China, India, Jepang, Selandia Pertama dan Korea Selatan – ditandatangani tanpa India yang menarik muncul pada 2019.

Indonesia telah memutar peran penting dalam negosiasi. Jadi ekonomi terbesar ketujuh di dunia – dan terbesar di ASEAN – Indonesia berkepentingan untuk tahu kesepakatan perdagangan ini diselesaikan. Perdana, ini akan membantu Indonesia memperluas pasarnya dan berintegrasi lebih jauh ke dalam rantai pasokan global. Kedua, RCEP hadir pada saat yang tepat sebagai pelengkap Omnibus Law yang baru saja disahkan di dalam mewujudkan reformasi struktural di Indonesia. Ini bahkan lebih penting menetapi perkembangan multilateralisme yang lamban serta terganggunya perdagangan global yang disebabkan oleh pandemi COVID-19.

RCEP dapat berfungsi sebagai payung bagi banyak pengaturan bilateral dan ' ASEAN plus' di kawasan. Ukurannya yang besar bakal membantu meminimalkan potensi efek spaghetti di antara para anggotanya melalui seperangkat aturan asal umum yang menekan komplikasi dalam melakukan perdagangan. Real, ada potensi anggota RCEP buat memanfaatkan FTA yang ada jarang anggota dan non-anggota.

Dengan demikian, Indonesia sanggup meningkatkan partisipasinya dalam rantai poin global, meskipun keterlibatannya saat ini masih di bawah banyak anggota RCEP lainnya. Satu studi menjumpai bahwa Indonesia bahkan dapat memperoleh keuntungan dari keterlibatan anggota lain dalam kesepakatan perdagangan yang bertentangan. Diperkirakan bahwa spill over effect dapat meningkatkan perdagangan Indonesia lebih dari 7 persen melalui pengembangan keterlibatan dengan rantai pasokan regional dan global. Untuk 11 mitra dagang teratas Indonesia, hanya Amerika Serikat dan India yang bukan anggota RCEP.

RCEP harus lebih meningkatkan ikatan intra-perdagangan Indonesia-ASEAN yang sangat diandalkan Indonesia. 25 persen dari total ekspor Indonesia masuk ke ASEAN dan 23 persen dari total impornya berasal dari ASEAN di dalam tahun 2019, yang sebagian besar merupakan hasil dari penghapusan kesusahan yang terkait dengan aturan asal dalam perjanjian perdagangan yang tersedia yang melibatkan negara-negara ASEAN. Menekan hambatan perdagangan regional merupakan jalan penting untuk mempertahankan perdagangan & menegakkan persaingan serta efisiensi. Aliran perdagangan yang meningkat cenderung membakar lebih banyak investasi asing tepat (FDI). Hal ini sejalan secara seruan berulang kali dari Kepala Joko Widodo untuk meningkatkan jalan masuk FDI ke Indonesia.

Jadwal penghapusan tarif adalah fitur utama RCEP. Studi tersebut menemukan bahwa pemotongan bayaran 1 persen oleh anggota RCEP akan meningkatkan perdagangan Indonesia rata-rata lebih dari 2 persen, dengan mengendalikan faktor-faktor lain.

Namun RCEP seharusnya tidak hanya fokus pada penghapusan beban. Belakangan ini, ketidakefisienan perdagangan sebagian besar disebabkan oleh hambatan non-tarif dan kendala di belakang tapal batas, seperti lembaga yang lemah, intervensi pemerintah yang buruk, dan infrastruktur yang buruk. Jadi, saat bersatu melalui RCEP, para anggota kudu memprioritaskan pembangunan regional kolektif untuk mempertahankan perdagangan, dilengkapi dengan pembaruan domestik di masing-masing negara. Ini termasuk penyesuaian struktural untuk menghilangkan hambatan dalam berbisnis – segalanya yang selama ini coba dikerjakan Indonesia.

Ada kritik bahwa kesepakatan itu tidak cukup berwawasan ke depan. Bukannya menciptakan perdagangan baru, RCEP dianggap hanya memformalkan perdagangan yang ada di dalam kawasan. RCEP juga telah dibandingkan dengan Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP) dan dipandang kurang komprehensif serta lebih fokus pada pemotongan beban dan peningkatan akses pasar. Namun itu juga berarti RCEP memerlukan lebih sedikit konsesi politik & ekonomi yang dapat menghambat perniagaan dan investasi.

Kekhawatiran lain adalah dominasi RCEP China – terutama setelah penarikan mundur India. Tapi RCEP bukanlah inisiatif yang dipimpin China. ASEAN memulainya dan Indonesia memimpin perjanjian.

Bahwa China akan memainkan peran besar tidaklah mengherankan. China telah menjadi pacar dagang dan investor eksternal terbesar ASEAN selama beberapa dekade. Dalam dua kuartal pertama tahun 2020, China memiliki pangsa 18 persen dalam total perdagangan ASEAN, terhitung US $ 220, 54 miliar. Rantai pasokan ASEAN juga sangat bergantung pada sektor manufaktur China. Apalagi perdagangan Indonesia dengan negeri lain seperti Amerika Serikat serta Uni Eropa juga semakin menyusun.

Langkah Nusantara selanjutnya adalah ratifikasi oleh dewan perwakilan rakyat. Meningkatnya sentimen anti-perdagangan di Indonesia dapat mempersulit proses ini. Tetapi parlemen yang sama meratifikasi Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia pada Februari, sehingga kemungkinan besar RCEP juga hendak diratifikasi.

Sesudah RCEP berlaku, Indonesia harus meneruskan dukungannya untuk reformasi perdagangan multilateral. Bersama dengan anggota lainnya, Nusantara harus memastikan bahwa RCEP berlaku sebagai cara untuk menjaga agar sistem perdagangan global tetap terbuka. Di dalam negeri, pemerintah Indonesia serupa harus memanfaatkan ini sebagai paksa untuk menolak seruan proteksionisme.

Arianto A Patunru adalah rekan di Arndt-Corden Department of Economics, Crawford School of Public Policy, Australian National University.

Ira Aprilianti merupakan seorang ekonom yang tinggal di Jakarta.

Comments are closed.